Menulis ituuu…

 

Bagi seorang professor, menulis mungkin seperti keharusan mengamankan kepandaian dalam ruang-ruang nyata sebelum otak serebumnya mengeluh sesak.. Bagi seorang jurnalist, menulis tentu saja perihal kewajiban melaporkan sesuatu yang kemudian menjadi informasi bagi masyarakat lantas mengalirkan rupiah.. Bagi seorang ilmuwan, menulis merupakan sarana untuk mempublikasikan hasil penelitian, untuk kepentingan yang memberikan manfaat juga untuk sebuah pengakuan…

Lalu bagi saya, menulis yang merupakan kemampuan dasar bagi setiap manusia ini hanyalah perkara kesukaan, apresiasi atas waktu dan kebutuhan untuk menyisakan jejak dalam setiap jalan yang terlewati…..

>.<

Kira-kira enambelas tahun lalu,, umur saya sudah menjelang tujuh tahun tapi bapak dan ibu belum menunjukan tanda-tanda akan mengganti seragam sekolah saya dari putih biru menjadi putih merah dengan suatu alasan. Karena katanya, kemampuan verbal saya belum sampai pada level M.E.M.B.A.C.A dan M.E.N.U.L.IS..!!! Well, memang terlalu lambat untuk ukuran pertumbuhan anak..

Kemudian di suatu sore terakhir liburan kenaikan kelas, saya berhasil menyeret paksa tangan kakak laki-laki saya hingga ke depan pintu rumah Kepala Sekolah SD nya. Dengan tujuan untuk mendaftarkan saya sekolah tentu saja.. Nekat… Sore itu saya membawa satu eksemplar majalah BOBO untuk membuktikan bahwa saya sudah bisa membaca,, meskipun memang belum mampu untuk menulis dengan baik.. Bisa membaca saja saya berfikir sudah cukup layak untuk siswa kelas satu pemula.. Lha wong teman-teman saya di taman bermain itu juga banyak yang belum bisa baca tulis dan tetap melaju ke SD kok..:P

Tingkat satu di sekolah dasar menulis  adalah belajar tentang apa itu subjek,, bagaimanakah sebuah predikat,, dan siapa itu objek. Mencoba mengaturnya menjadi kalimat sederhana yang mengandung makna… Tahun berikutnya, Ibu guru saya yang gendut mulai mengajari menggunakan kata hubung,, keterangan,, dan klausa  sehingga kalimat yang saya tulis menjadi sedikit lebih komplek.. Selanjutnya saya dikenalkan dengan hiperbola, metafora, alegori, paradox, eufimisme, repetisi dan banyak lagi gaya bahasa lain dalam sebuah bait puisi.. Eksplorasi menulis dengan beragam model pun dimulai..  Lalu akhirnya, di tahun keempat merah-putih, saat saya untuk pertama kalinya ditugaskan menjadi pengibar bendera dalam upacara, sebuah paragraph dengan kalimat nan padu serta tiga bait puisi personifikasi  pun saya selesaikan.. Karya pertama itu dikirim ke kota kabupaten oleh guru Bahasa Indonesia saya untuk bersaing dalam kompetisi essai dan menulis puisi tingkat SD. Tapi beruntungnya kalah (terharu…:O)

Remaja,,  menulis adalah tentang curahan hati sarat kelebayan pada lembar-lembar kertas violet bermotif bunga.. Dengan barisan kata-kata lumayan puitis tatkala suasana hati menjelma melankolis, dan cerita-cerita apa adanya ketika hati sedang bergembira ria.. Kemudian fase itu berakhir dengan program mengepak barang-barang pribadi dalam kardus. Melipat baju-baju dalam koper. Bersiap menuju perguruan tinggi di kota. Tiga buku puisi dan dua diary rapi tersimpan. Mengabadikan perjalanan merah, biru dan abu-abu,  kisah tentang 14 februari dan lukisan batang pisang,, juga tentang sepeda dan pematang sawah yang menyenangkan..

Sekarang…

Dewasa yang saya jelang dalam rantau dengan jarak sejauh 6 putaran jarum waktu dari kampong. Menulis adalah tentang cerita beralat layar monitor, tuts keybord dan sebuah blank document.. Menulis adalah mencatatkan perjalanan, merekam adegan demi adegan kehidupan,, menyimpan ide-ide sebelum terlupakan,, mengamankan buah pikiran sebelum terlewatkan  serta memastikan hal-hal terbaik yang diberikan waktu kelak bisa diingat detail sempurna.. Tanpa terbatas pada kemampuan otak menyimpan memori.. Saat saya bahagia, tertawa, menuai keberhasilan, menjalani hidup yang sangat mudah nan menyenangkan, menulis akan mengingatkan saya tentang syukur yang sempat terabaikan..  Kemudian saat saya bersedih, menangis, mendapati kegagalan,, digulung badai ujian,, lantas jatuh dan terpuruk,, menulis seperti menumpahkan sesak yang menghimpit.. Menghasilkan efek lega yang perlahan menghangatkan jiwa..  Seperti merasakan sentuhan tangan ibu pada punggung saya,, serupa mendapati tangan bapak mengusap kepala saya.. Menenangkan.. Menguatkan.. Tulisan itu, layaknya tangan-tangan absurd yang menarik saya kembali berdiri, menantang lawan,, melanjutkan perjalanan dan kembali berjuang untuk kebahagiaan yang menjadi hak dalam hidup saya..

Lalu nanti, ketika jalan-jalan panjang ini usai terlalui. Ketika pencapaian-pencapaian sudah menjanjikan aman. Dan ketika kaki sudah menapaki area lapang dengan kesantaian menunggu waktu, hasil menulis itu akan serupa nostalgia. Mengingatkan tentang warna-warni pelangi, tentang injeksi kafein setiap pagi, lalu menyadarkan tentang pulang. Setelahnya, ada hal abadi yang akan saya tinggalkan di dunia ini.. Tidak berharga, tapi setidaknya dengan begitu kelak cucu dan cicit saya tetap bisa mengenal neneknya.. Juga mendoakannya..

Sebatas itu saja,, tidak sederhana bukan..???

Meskipun demikian,, tapi detik ini menulis masih menjadi keinginan akan kebiasaan jelang tidur yang sering terlalaikan..:)

Jadinya ruang ini,, hanyalah sebagai ruang kejujuran.. Tempat paling bebas bagi saya mengungkapkan, menyatakan pikiran.. Semacam ruang penyimpanan.. Pensive untuk mengabadikan kenangan.. Serta ruang, dimana tentang saya akan tetap dan selalu ada…^.^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s