Bungaungu

Aku, Kau dan Kita (3)

 

Kau masih terdiam,

sedang di timur garis-garis kemerahan menjadi semakin tegas..

 

Cobalah ikut mengalur bersama angin,

hingga saat pijarnya telah sempurna

tak ada bagian darimu yang tersengat dan melegam..

 

Lalu putarkan baling-baling kayu itu,

tawarkan pada mereka,

bahwa hidup ini mudah saat kita mau melihat harapan dari celah-celah yang sederhana..

 

Lantas gerimis kulihat datang malu-malu,,

melukir sejanak biru gemawan menjadi suram kelabu,,

sedetik berlalu putih kapas kembali berarak riang..

 

Kita tetap tidak mungkin mengharap matahari kembali bisa tersenyum sempurna kemudian,,

tapi jika kau mau tetap terjaga,,

 lepas tengah malam nanti kuajak kau melihat pertunjukan cahaya saat Firenze melepas anak panahnya..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s